Kehadiran perangkat Blackberry sangat memengaruhi sekaligus mengubah
pola dan gaya hidup penggunanya. Mereka dengan gampangnya mengumbar nomor PIN
kepada semua orang minta di-'add'. Padahal PIN itu sendiri kan seharusnya nomor
rahasia. Sebaliknya, nomor telepon yang dimilikinya yang dirahasiakan.
Memang diakui, bahwa Blackberry adalah alat teknologi yang canggih. Dan
tetap saja itu adalah buatan manusia. Lalu apa hubungannya ?
Menjadi Candu
Yang dikhawatirkan
adalah, perangkat canggih itu sudah menjadi “candu” bagi para penggunanya.
Merasa kehilangan segalanya apabila lupa membawa BB, daripada lupa membawa
dompet. (Analoginya, sama seperti pecandu rokok, lebih baik tidak makan
daripada tidak merokok).
Menjadi Berhala
Dan yang lebih
menakutkan lagi adalah, BB menjadi “berhala” bagi penggunanya. Misalnya, di
dalam gereja lebih asik ber-BB-ria sambil apdet status daripada membaca Alkitab
dan mendengarkan khotbah, tetapi selalu saja ada alasan klise, “kan di BB ada
aplikasi Alkitab, bisa baca di BB juga koq”. Benar atau tidak, hanya dia dan
Tuhan yang tahu.
DIPERBUDAK
Mau tidak mau dengan
kedua hal tersebut di atas, otomatis pengguna BB akan diperbudak. Ada 2 “oknum” yang menjadi “majikan”. Yang pertama
perangkat BB itu sendiri, dan yang kedua adalah pihak operator. Coba bayangkan,
perangkat BB tidak akan ada artinya alias tidak berfungsi bila tidak ada pulsa.
Dan pulsa hanya bisa diperoleh melalui operator.
Pihak operator adalah
majikan yang paling “kejam” sekaligus yang paling berbahagia. Mengapa demikian?
Alasannya, sangat sederhana.
Kita ingat, dahulu ada
permainan anak-anak yang namanya “Tamagochi”? Bentuk permainan yang sederhana,
kita hanya memberi makan “binatang” agar tetap mendapatkan skor atau nilai.
Bila tidak diberi makan, maka “binatang” itu akan mati, dan nilai pemainnya
berkurang bahkan habis. Jadi, mau gak mau kita memberi makan agar binatang itu
tetap “hidup”, maka otomatis kita akan terus memainkan Tamagochi itu,
samapi-sampai kita sendiri yang lupa makan karena asik bermain Tamagochi.
Bukankah hal ini sama
persis dengan BB? Mau tidak mau para pengguna BB harus memberi “makan” yaitu
berupa pulsa. Dan pulsa itu adalah “makanan khusus” (hanya untuk BBM, FB,
Chatting, Browser, dll) dengan berbagai macam nilai/harganya dan tidak berlaku
untuk SMS apalagi untuk bertelepon. Itu yang dinamakan “PAKET”, entah itu Paket
GAUL, Paket BROWSING, Paket Chatting, atau apalah, terlebih dengan embel-embel
“UNLIMITED”, padahal itu bohong semua. Sedangkan untuk bisa bertelepon ria dan
SMS, kita harus membeli pulsa tersendiri di luar PAKET tersebut. Bukankah ini
adalah bukti kekejaman operator yang memaksakan pengguna BB untuk membeli pulsa
mereka? Benar-benar suatu pemborosan yang dipaksakan. Pengguna BB sudah
terhipnosis secara tidak sadar. Coba kita bandingkan dengan beberapa tahun lalu
sebelum adanya BB. Operator tidak bisa “memaksa” kita untuk mengisi pulsa,
karena kita sendiri yang mengatur, kapan kita menggunakan pulsa itu. Itu pun
hanya dibatasi oleh tenggang waktu.
Operator juga pihak
yang paling berbahagia. Mengapa? Semakin banyak orang yang menggunakan
perangkat BB, semakin banyak pula orang yang membeli pulsa dan otomatis semakin
untung dan kayalah operator itu. Apalagi sekarang ini makin banyak iklan yang
menawarkan perangkat BB murah dengan tujuan orang tertarik membelinya, dan
tentu saja dalam hitungan detik, para operator sudah tertawa terbahak-bahak
menghitung berapa miliar rupiah yang dapat diraih dalam waktu 1 hari saja.
Sejujurnya saja,
pengguna BB hanya lebih banyak menggunakan perangkatnya untuk BBM saja. Kecil
persentasinya untuk apdet status di FB, Twitter, dll. Karena memang hanya
itulah kelebihan perangkat BB. Fasilitas aplikasi FB, Twitter, YM, Email, dll
sudah dapat diakses oleh perangkat lain selain BB, bahkan ada yang mengklaim
lebih bagus dan lebih enak menggunakannya daripada BB.
Artinya, alangkah
bodohnya kita membeli perangkat berharga
jutaan rupiah hanya untuk bisa ber-BBM. Yang membedakan BBM dengan
layanan SMS atau MMS hanya jumlah huruf yang tidak terbatas, dan ukuran serta
jenis gambar yang dapat dikirimkan. Soal kecepatan pengiriman dan penerimaan,
tergantung kekuatan sinyal operator.
Lalu apa kelebihan BB bila diukur hanya dengan fasilitas BBM saja?
Katanya BB itu “Smartphone
for Smart People”, tapi koq penggunanya gak smart ya….
Tuhan menciptakan
manusia dengan diberikan akal dan pikiran dan pengetahuan untuk dapat
menciptakan sebuah teknologi. Seharusnya manusia yang menjadi majikan atas
teknologi, bukan sebaliknya.
Bagaimana dengan Anda?
