Review Atas Video Komparasi : Smartfren Andromax Z vs Lenovo P780
Saya sengaja memilih video tersebut dengan alasan Andromax Z adalah seri Andromax yang paling mahal menurut saya. Namun saya memberikan judul "Smartphone Andromax Series Unggul Karena Faktor Smartfren", dengan alasan yang masuk akal. Yaitu :
1. Keduanya menggunakan merk "Made In China", yaitu Hisense dan Lenovo
2. Melihat video komparasi kedua smartphone tersebut, dari hasil kesimpulan ternyata Lenovo P780 menurut saya lebih unggul secara umum.
3. Andromax Z menurut saya unggul dari segi layar yang lebih tajam, suara Dolby, dan video. Sedangkan Lenovo P780 unggul lebih banyak.
4. Merk Lenovo lebih mendunia dibandingkan Hisense. Sebagai informasi, Lenovo adalah perusahaan yang juga dari China, adalah perusahaan yang mengakuisisi perusahan komputer terbesar dari AS saat itu, IBM. Hampir semua perangkat komputer seperti laptop, PC yang dulunya menggunakan merk IBM, sekarang berganti merk Lenovo. Dan Lenovo mengembangkan bisnisnya dengan memproduksi perangkat telepon selular.
5. Ada beberapa orang yang masih "ragu-ragu" menggunakan produk ponsel buatan "China" karena terkesan murahan, mutunya jelek, kurang terkenal, dll. Padahal tidak semua produk "China" seperti itu. Contohnya Hisense/Haier dengan lini Andromaxnya dan juga Lenovo itu sendiri.
6. Jika merk Lenovo dibandingkan dengan ponsel/smartphone merk China selain Hisense (Andromax), maka mereka pasti akan memilih Lenovo. Tetapi jika dibandingkan dengan Andromax, terutama Andromax, orang-orang dan juga saya, tentu akan memilih Andromax. Mengapa?
Ini alasan mengapa saya memilih Andromax dibandingkan Lenovo : Andromax menggandeng operator Smartfren untuk memasarkan produknya di Indonesia. Dan saya pribadi bukan melihat produk smartphonenya, tapi Smartfren.
Ya... Smartfren adalah operator selular berbasis CDMA yang terbaik untuk saat ini. Dan saya mengakui hal itu karena saya pengguna Smartfren sejak masih menggunakan merk "FREN".
Jadi, kesimpulan review saya tentang komparasi antara Andromax Z vs Lenovo P780 adalah karena faktor Smartfren. Dan satu lagi: Harga smartphone Andromax yang dibundling dengan operator Smartfren, lebih murah dibanding yang lain. Tapi ingat... Murah bukan berarti murahan!
Bagaimana dengan Anda?
Kabehono atau kabeh ono atau semua ada. Blog ini memberikan segala informasi yang serius, lucu, guyonan atau apapun.. yang penting pembaca blog saya ini pasti akan berkomentar, "ono ono wae!" Namanya juga Kabeh Ono...
Jumat, 29 Agustus 2014
Minggu, 24 Agustus 2014
WHY MACAU? – Kota yang Harus dan Wajib Anda Kunjungi!
WHY MACAU?
Kota Makau, disebut juga Daerah Administrasi Khusus Republik Rakyat Tiongkok Macau, sama seperti Hong Kong. Makau adalah daerah kecil di pesisir Selatan Negara Tiongkok, bersebelahan dengan Hong Kong.
Kota Makau, disebut juga Daerah Administrasi Khusus Republik Rakyat Tiongkok Macau, sama seperti Hong Kong. Makau adalah daerah kecil di pesisir Selatan Negara Tiongkok, bersebelahan dengan Hong Kong.
Makau, sebelumnya adalah negara
kecil jajahan Portugis atau Portugal sebelum dikembalikan ke “orang tua”nya
Republik Rakyat Tiongkok, pada tahun 1999.
Mendengar kota Makau, kami jadi
teringat akan liburan kami berdua (saya dan istri) ke kota tersebut pada tahun 2008. Sudah lama
memang, tetapi banyak kenangan di sana yang tidak bisa kami lupakan.
Sebelum ke Makau, kami sebenarnya
sedang berada di Hong Kong dan Shen Zhen, di rumah kakak dan keponakan kami.
Karena letak Makau berdekatan dengan Hong Kong maka cukup dengan menyeberang menggunakan feri,
sampailah kami di Makau.
Banyak cerita menarik di Makau,
mulai dari penduduk, pemandangan, suasana kota, peninggalan budaya, dan tentu
saja makanannya.
Mendengar kata Makau, orang pasti
akan berpikiran. “Wah itu kota judi.” Tidak ada kata lain menyangkut Makau
selain judi. Namun setelah kami menginjakkan kaki kami di sana, ternyata lebih
dari apa yang dibayangkan orang selain kata “judi”.
Tertarik dengan hal Makau, kami
akan menceritakan kembali perjalanan kami ke Makau, disertai dengan foto-foto
kami saat berada di sana, agar jangan dibilang “omdo”. Hahahahaha...
Perjalanan ke Makau
Dari Hong Kong, tepatnya di
pelabuhan Victoria Harbour, kami menuju ke lokasi terminal penyeberangan laut
untuk membeli tiket feri ke Makau. Harga tiket saat itu adalah sekitar HKD 300
atau dikurskan Rp.450.000 per orang.
Setelah membeli tiket, kami
mengantre ke konter imigrasi. Maklum, kami berdua orang asing dan kami
menunjukkan paspor kami. Sedangkan kakak kami yang asli orang Hong Kong, hanya
menunjukkan KTP saja. Pelayanan di konter imigrasi tidaklah sesulit dan selama
seperti konter imigrasi lainnya di bandara. Kemudian kami menuju ke anjungan
atau dok penyeberangan sambil menunggu feri yang akan mengangkut kami. Dok
penyeberangan bersih, bagus, dan terawat. Ada ruang tunggu dan ber-AC. Dan itu
membuat para penumpang betah walau harus menunggu lama kedatangan feri.
Saat feri datang dan bersandar, penumpang dari feri turun dari pintu belakang sampai habis, baru kemudian penumpang naik dari pintu depan. Itu pun dilakukan dengan tertib dan teratur. Tangga menuju feri berupa besi yang dikeluarkan dari lambung kapal feri. Dan di dalam feri telah tersedia deretan tempat duduk yang sangat rapi dan bagus. Tempat duduk seperti kursi dalam pesawat terbang. Ruangan bersih dan ber-AC. Perjalanan menuju Macau memakan waktu sekitar 2 jam tapi itu tidak membosankan bahkan menurut kami sangat menyenangkan. Maklum karena kami baru pertama kali. Bahkan kami pun sempat ber-selfie ria. Heheheheh norak ya!
Foto 1: Di atas kapal feri yang membawa kami menyeberang dari Hong Kong ke Makau.
Tiba di Makau
Setiba di Makau, di pelabuhan
Makau, kami turun dan menuju ke tengah kota dengan mengendarai bus. Ada banyak
bus dengan trayek ke kota-kota yang dituju yang tersedia di pintu keluar
pelabuhan, jadi kami tidak bingung harus kemana. Trayek yang tertulis di depan
bus menggunakan tiga bahasa yaitu aksara Mandarin, Inggris, dan tentu saja
bahasa Portugal. O ya hampir semua tempat di kota-kota di Makau banyak
menggunakan nama-nama yang berbau Portugis. Maklum Makau adalah wilayah
Tiongkok bekas jajahan Portugal.
Di dalam bus kami berkeliling
melintasi kota dan menikmati pemandangan kota Makau yang benar-benar bersih dan
asri. Kota tertata dengan apik. Yang unik, di Makau kami melihat tidak ada
lampu lalu lintas di setiap perempatan jalan namun yang hebat adalah tidak
terjadi tabrakan karena para pengemudi di sana baik mobil maupun pengendara
sepeda motor sangat disiplin dalam berlalu lintas dan juga mereka sangat
menghormati para pejalan kaki yang akan menyeberang. Begitu ada yang
menyeberang jalan, otomatis mereka berhenti mendahulukan mereka yang
menyeberang. Luar biasa. Coba saja hal ini terjadi di Indonesia, di Jakarta
misalnya. Mungkinkah?
Kami menginap di rumah salah
seorang family kami yang memang sudah lama menjadi penduduk Makau. Enaknya,
kami bisa diajak berkeliling tanpa harus menyewa tour guide (lumayan bisa mengirit uang).
Kami berada di Makau selama 2
(dua) hari. Dan selama 2 hari itu kami tidak sia-siakan untuk berburu obyek
wisata, dan kuliner tentunya. Banyak hal-hal luar biasa yang kami dapatkan di
sana. Kami akan ceritakan beberapa hal yang dapat menjadi referensi bagi Anda
yang ingin mengunjungi Makau.
Penduduk
Penduduk kota Makau adalah
campuran dalam arti gabungan dari beberapa etnis. Yang paling banyak adalah
etnis Tionghoa, karena memang Makau adalah bagian dari negara Tiongkok. Etnis
lainnya adalah orang-orang keturunan Portugis termasuk juga orang Indonesia
asal Timor Timur yang juga bekas jajahan Portugis.
Penduduk Makau termasuk orang
yang ramah tapi cuek. Ramah dalam artian mau menjawab setiap pertanyaan yang
diajukan misalnya menunjukkan arah jalan, tempat wisata, atau nama tempat,
dengan senyuman. Cuek dalam artian tidak mau peduli urusan orang. Itu yang kami
alami saat kami bertanya tentang lokasi yang akan kami kunjungi.
Jangan berharap mereka bisa
berbahasa Inggris dengan lancar, kecuali mereka yang berpendidikan dan bekerja
di perkantoran. Para pedagang di sana seperti pemilik toko, pedagang makanan
dan minuman di pinggir jalan, lebih menguasai bahasa Mandarin, karena sebagian
besar mereka adalah penduduk asli Makau, yang adalah orang Tionghoa dari
daratan Tiongkok.
Para pekerja perkantoran adalah
orang-orang keturunan Portugis termasuk orang Indonesia asal Timor Timur, dan
juga orang Tionghoa. Mereka mahir menggunakan 3 bahasa (Inggris, Portugal,
Mandarin, plus Bahasa Indonesia bagi penduduk asal Indonesia). Nama-nama mereka
juga menggunakan nama-nama berbahasa Portugal seperti Fernandes, Xavier, Quentin, dll.
Suatu kali kami tidak sengaja
menemui seorang laki-laki, pegawai di
bagian kebersihan Hotel Venetian, untuk menanyakan letak toilet (karena
kebetulan kami kebelet pipis), dan ia menunjukkan dengan menggunakan bahasa
Inggris campur Portugis. Iseng-iseng saya tanya asalnya, ternyata dia adalah
orang Timor Timur yang mengadu nasib di Makau. Ia menjawab dengan bahasa
Indonesia logat khas orang Timur (Papua, Ambon). Namanya kalau tidak salah Tony
(nama singkat di badge baju seragam kerjanya). Sekadar informasi, Hotel
Venetian Macau adalah hotel bertaraf dunia, semua pegawai menggunakan jas ,
termasuk pegawai di bagian kebersihan sekali pun.
Obyek Wisata
Di Makau, banyak sekali obyek
wisata yang wajib dikunjungi. Banyak situs sejarah yang dibiarkan utuh sesuai
aslinya, hanya dicat ulang agar kelihatan lebih bersih, namun bentuk bangunan
dibiarkan tetap seperti aslinya.
Contohnya, adalah dinding bagian
depan gereja Katolik yang sempat terbakar ratusan tahun lalu, dibiarkan tetap
berdiri. Di lokasi tersebut, di teras depannya dijadikan tempat berkumpul para
wisatawan yang hendak mengabadikan dirinya dengan latar belakang bekas dinding
gereja tersebut. Hampir setiap hari lokasi tersebut dibanjiri ribuan wisatawan
dari berbagai dunia.
Foto 2: Bagian depan gedung gereja Katolik yang sempat terbakar. Usia bangunan ratusan tahun
Di dekat lokasi tersebut banyak
ditemui benda-benda bersejarah lainnya, seperti benteng pertahanan saat perang
Fort Knox, meriam mirip si Jagur di Kota Tua,
juga ada patung-patung yang dapat sekadar dijadikan obyek selfie. Juga
banyak pedagang cinderamata khas Makau, seperti gantungan kunci bergambar ikon
kota Makau, kotak musik (music box) yang dapat mengeluarkan musik saat dibuka,
dan pernak-pernik lainnya, yang harga cukup murah menurut ukuran kantong orang
Indonesia, termasuk kami yang sempat membeli oleh-oleh gantungan kunci.
Ada yang sedikit berbau “porno”
di sana yaitu ada patung wanita telanjang yang sedang duduk sambil memegang
patung seekor singa kecil. Saya berkesempatan berfoto “nyeleneh” dan itu
menurut saya pribadi bagus untuk dilihat hasil fotonya.
Foto 3: Di tempat wisata yang banyak peninggalan warisan budaya Portugis
Ada juga toko yang menjual
buah-buahan, makanan, dan minuman khas Makau. Saya berkesempatan membeli satu
pak cemilan kacang khas Makau yang cukup enak, menikmati segelas teh khas Makau
dicampur es yang nikmat, juga tak lupa membeli kaos khas kota tujuan wisata
yang biasa dibeli oleh para wisatawan yang berkunjung ke suatu negara, seperti
kaos yang bertuliskan “I Love Macau” dan lain sebagainya.
Ada alun-alun yang di tengah kota yang sangat indah untuk sekadar berkumpul bersama keluarga, mengobrol, berfoto-ria, sambil menikmati pemandangan kota. Dihiasi dengan miniatur benteng berwarna merah oranye bernuansa Tiongkok di tengah-tengah alun-alun, dikelilingi bangunan nuansa Eropa, sangat eksotik.
Foto 4: Di tengah alun-alun
Tempat wisata lain yang beruntung
sekali dapat kami kunjungi adalah Hotel The Venetian. Hotel termegah dan
termewah di Makau. Kenapa beruntung? Karena pada tahun 2008 saat kami melakukan
perjalanan ke sana, hotel tersebut sedang dalam tahap finishing, belum soft
opening, sehingga kami dapat leluasa masuk ke dalam lobi, teras, sampai ke
dalam hotel hanya untuk sekadar melihat-lihat keindahan interiornya. Seandainya, hotel tersebut sudah ada,
mustahil kami dapat masuk ke dalamnya, apalagi sampai menginap. Hahahahaha
kecuali kami miliarder atau penjudi kelas kakap.
Sayangnya, kunjungan tersebut dilakukan pada malam
hari jadi kurang terlihat indah, untungnya bangunan hotel tersebut dikelilingi
ribuan lampu hias sehingga masih dapat dilihat kemegahan dan kemewahannya.
Foto 5: Latar Belakang - The Venetian Hotel & Resort
Sebenarnya Hotel The Venetian itu
jadi satu dengan mall dan arena judi kasino yang terkenal di dunia, yang ada di
bawahnya. Mallnya terlihat mewah dan glamor. Barang yang dijajakan adalah kelas
atas. Kami hanya bisa melihat namun tidak bisa membeli. Ehem.... Kepengen sih,
tapi apa daya, tidak ada dolar di kantong, ada pun hanya lembaran satuan
dolar... Hahahahahaha.
Di lorong sepanjang mall, bisa Anda temui beberapa
orang “pengamen” dengan berlakon seperti seorang pantomim. Wajah dan seluruh
tubuhnya dicat putih. Kadang-kadang mereka berlagak seperti patung, tidak
bergerak sedikit pun. Ini kesempatan yang tidak kami sia-siakan untuk dapat
berfoto ria dengannya. Mengapa saya katakan “pengamen”? Karena mereka
sebenarnya para artis jalanan yang mendapatkan uang dari pemberian para
pengunjung mall. Uang kita taruh di dalam sebuah kotak yang ada di bawah
kakinya tempat “patung” itu berdiri. Dan mereka mengucapkan terima kasih dengan
menggerakkan tangannya.
Foto 6: "Pengamen" di dalam mall
Di dalam mall tersebut dapat Anda
jumpai “sungai” seperti yang ada di kota Venesia, Italia. “Sungai” itu ada air
yang mengalir membelah lantai mall itu dan dihubungkan dengan jembatan. Anda
dapat mengendarai perahu dengan menyewanya kepada pengemudi perahu, sambil
mengitari mall. Di atap mall dilukis awan dan langit seperti layaknya langit sungguhan di kota Venesia. Itu
sebabnya, hotel merangkap mall tersebut dinamai The Venetian, seakan miniatur
kota Venesia.
Foto 7: "Little Venice"
Kami tidak sempat menaiki perahu,
namun sempat berfoto di atas “jembatan” dengan latar belakang langit biru.
Aiihhh... mesranya!
Foto 8: Di atas "Jembatan Sungai Venice"
Kami pun berkesempatan mampir ke
ruang arena judi kasino terbesar di Asia. Ada ratusan meja judi berukuran besar
tertata di setiap sudut dan tengah ruangan. Masing-masih ada petugas yang
melayani para pemain, ada yang wanita ada pula yang pria. Ternyata masuk ke
dalam arena judi tersebut tidak sesulit dibayangkan orang-orang. Kami bebas
masuk ke dalam arena tertutup yang memang sangat luas itu. Siapa pun boleh
masuk ke dalam arena itu hanya dengan syarat, tidak boleh mengenakan kaos
oblong dan celana pendek. Itu aturan yang diterapkan manajemen Kasino. Selain
itu, ada aturan “DILARANG MEMOTRET!” Makanya kami hanya bisa bercerita tanpa
bisa memberikan gambar.
Anda punya uang? Boleh main di
dalam arena judi ini. Kami pun sempat main judi semacam ding dong atau rolet
yang mana ada angka di panel, lalu kami masukkan koin yang sudah ditukar dengan
uang di kasir. Kami putar tuas di panelnya, maka deretan 3 angka akan bergerak
dengan cepat, kemudian berhenti. Apabila 3 angka berjajar dengan nilai sama,
maka kami mendapat hadiah uang senilai yang tertera di panel tersebut. Namun,
namanya juga judi, kami tidak semujur itu. Kami tidak mendapatkan apa-apa.
Tidak apalah hanya menghabiskan uang senilai HKD 50 atau sekitar Rp.150.000,--
untuk sekadar coba-coba main judi kasino di Makau, cukup puas.
Asal Anda tahu, ada banyak warga
negara Indonesia kaya yang berada di dalam arena judi ini.
O iya hampir lupa. Kasir
penukaran uang di dalam arena judi tersebut kebanyakan wanita. Lebih banyak
yang berwajah oriental. Wajahnya tentu saja cantik, dan berpakaian seksi. Tapi
jangan coba-coba berbuat iseng atau menggoda mereka. Mereka juga mahir
menggunakan 3 bahasa, Inggris, Portugis, dan tentu saja Mandarin.
Karena tidak diperbolehkan
memotret, maka kami hanya bisa berfoto di depan pintu masuk arena judi saja.
Hahahahaha mumpung bisa....
Foto 9: Di luar area kasino
Keadaan Kota dan Transportasi
Beralih ke keadaan kota dan moda
transportasi di kota Makau.
Kotanya bersih, segar, nyaman.
Itu kesan pertama yang kami dapat. Itu memang iya jika dibandingkan dengan kota
Jakarta. Di Makau banyak berseliweran mobil-mobil mewah milik pribadi maupun
milik konsulat atau atase. Ada juga kendaraan angkutan publik seperti bus. Kami
tidak melihat ada rel kereta api, atau karena kami tidak melalui kota yang ada
jalur rel kereta api. Sepeda motor di Makau hampir semuanya adalah skuter matik
atau skutik. Mungkin untuk memudahkan saja dalam berkendara.
Uniknya, hampir di setiap
persimpangan yang kami lewati, tidak ada rambu lalu lintas. Tapi yang bikin
kami salut, mereka adalah pengendara dan pengemudi yang sangat disiplin. Mereka
menghargai dan menghormati hak para pejalan kaki. Setiap ada yang akan
menyeberang, para pengendara sepeda motor atau pengemudi mobil, akan berhenti
secara otomatis. Luar biasa! Perilaku yang pantas dicontoh di Indonesia.
Sistem perparkiran menggunakan
sistem elektronik. Setiap kendaraan yang berhenti untuk parkir, di sisi jalan
ada alat elektonik yang mencatat data kendaraan, seperti jenis kendaraan, nomor
polisi, jam mulai parkir. Ketika si pemilik kendaraan akan meninggalkan area
parkir, alat pencatat tersebut akan berbunyi dan kemudian mengeluarkan semacam
tiket yang menunjukkan lamanya waktu parkir dan biaya yang harus dibayar. Namun
saya tidak sampai mengamati, bagaimana cara membayar parkir tersebut, karena
saya tidak mungkin memperhatikan setiap kendaraan yang parkir sampai kemudian
mereka meninggalkan parkirnya. Yang membuat saya kagum adalah kedisiplinan dan
kejujuran masyarakat di sana.
Saya hanya mengamati secara sekilas saja. Tapi
saya menilai ini sangat bagus diterapkan di Indonesia.
Kuliner
Terakhir adalah masalah kuliner.
Ini yang kami nantikan selama berada di Makau. Kami selalu ingin tahu makanan
dan minuman khas apa yang ada di Makau. Dan kami harus mencicipinya. Beruntung
kami tinggal di rumah seorang family, jadi ketika saat makan di sebuah
restoran, kami tidak perlu mengeluarkan uang makan karena pasti ditraktir.
Hahahahah ngarep dot com.
Di beberapa restoran di Makau,
ada juga yang menyajikan masakan khas Indonesia. Saya teringat, ketika di sana,
saya memesan 1 porsi Laksa. Istri saya dan yang lainnya memesan makanan khas
Asia seperti ayam goreng mentega, sup daging, dan lainnya. Saya lupa karena
sekali lagi, foto-foto kenangan saya hilang. Tapi yang pastinya, makanan di
Makau masih cocok dengan lidah orang Indonesia. Ada masakan Eropa, Jepang,
Amerika, Arab, India, dan Indonesia. Tergantung di restoran mana kita akan
singgah.
Ada lagi! Penjaja makanan kaki
lima banyak di sekitar pasar atau tempat wisata. Mereka tidak sembarangan
berjualan di jalan-jalan protokol atau jalan-jalan yang dilalui kendaraan.
Mereka berjualan di tempat yang disediakan. Harganya cukup murah dan beragam
jenis. Kami pun sempat mencicipi semacam bakso, yang memang enak. Harga 1 porsi
bakso sekitar HKD 10 atau Rp.15.000 saja. Kami tidak melihat ada gerobak makanan
yang mangkal, tetapi berupa pikulan atau gerobak kecil yang hanya memuat tempat
masak dan mangkok atau gelas saja. Tidak disediakan tempat duduk, jadi makan
sambil berdiri. Tapi itu seakan terlupakan karena konsentrasi kami adalah
makanan dan minuman yang sedang kami nikmati. Muantappp!!!
Kiranya dari cerita pengalaman
perjalanan kami ke Makau, dapat menginspirasi Anda semua untuk bisa mengunjungi
Makau. Dijamin Anda dapat menikmati semua hal yang menarik yang ada di Makau.
Label:
CATATANKOE,
hongkong,
kasino,
kuliner,
macau,
macauindonesia,
mgto,
portugis,
travel,
venetian,
vivalog
Langganan:
Komentar (Atom)









