Nyepi bagi orang Bali adalah hari berdiam diri. ("Day
of Silence") yang
dilakukan menurut kalendar Bali yang bertepatan jatuh pada 12 Maret 2013. Yang melakukan Nyepi adalah
umat Hindu yang ada di Bali khususnya dan Indonesia pada
umumnya, juga dunia.
Nyepi juga dirayakan
sebagai permulaan Tahun Baru Saka dan dinyatakan sebagai hari libur nasional. Nyepi
adalah sebuah hari untuk
berdiam diri, berpuasa
dan meditasi bagi masyarakat Bali. Berpuasa dari segala hal-hal yang bersifat duniawi.
Menyucikan hati dan pikiran dari hal-hal yang kotor. Sama halnya dengan agama lain yang melakukan
puasa. Menahan segala hawa nafsu duniawi. Ada maksud tertentu dalam melakukan
puasa, meditasi, atau perenungan diri. Mendekatkan diri kepada Tuhan yang Maha
Kuasa.
Khusus hari raya NYEPI di Bali, seluruh masyarakat yang berada di Bali
tidak boleh melakukan kegiatan apa pun. Semua kegiatan perkantoran dan sekolah
diliburkan. Dan berdampak kepada masyarakat lain yang non Hindu. Ini sebagai
bentuk saling menghormati atau toleransi beragama yang berada di Bali. Bagi
yang tidak terbiasa Nyepi, tentunya merasa “terganggu”. Yang merasa “terganggu”
dengan adanya perayaan NYEPI ini, ada sebagian masyarakat yang meninggalkan
Bali untuk berlibur ke daerah lain. Itu adalah hak mereka. Sebagaimana saat
bulan Ramadhan bagi umat Islam untuk berpuasa sebulan penuh. Sebagian ada yang
tidak berpuasa.
Namun sayangnya, sifat jasmani yang lebih ditonjolkan untuk tidak
melakukan kegiatan selama perayaan NYEPI ini. Padahal seharusnya makna Puasa,
Meditasi, Penenungan Diri ini lebih bersifat rohani.
Dalam pandangan Kristen, NYEPI sama maknanya dengan Hari Sabat, Hari
Perhentian. Berhenti dalam melakukan aktivitas, dan memfokuskan hati dan
pikiran kepada Sang Pencipta dengan berdoa.
Dalam kekristenan, hari Sabat atau hari Perhentian, adalah hari Minggu
atau hari ke-7, dilakukan dengan berdoa dan pergi beribadah ke gereja bersama
dengan keluarga. Mengucap syukur kepada Tuhan karena Tuhan sudah memberkati
sepanjang 6 hari dan 1 hari diberikan untuk Tuhan.
Dalam ajaran Kristen, hari Sabat memang tidak melakukan kegiatan
sebagaimana hari2 lain tapi melakukan kegiatan yang bersifat rohani, berdoa,
melayani Tuhan. Tidak ada larangan untuk melakukan kegiatan saat hari Sabat
atau hari Perhentian itu, terlebih menyangkut orang lain/sosial.
Hal ini yang terjadi di zaman Yesus, ketika orang2 Yahudi mengecam apa
yang dilakukan oleh #Yesus pada hari Sabat. Yesus menyembuhkan orang sakit pada
saat hari Sabat. Dan itu membuat marah orang2 Yahudi. Namun Yesus memberikan
pengertian yang benar tentang Hari Sabat! Dan itu membuka mata orang2 Yahudi.
Kata Yesus: “Adakah yang tidak mau menolong bila anaknya atau lembunya
terperosok ke dalam sumur walaupun saat itu hari Sabat?” Makna yang dalam dinyatakan oleh Yesus tentang hari
Sabat, Nyepi, hari Perhentian, hari untuk Berdiam diri. Lakukan hari perhentian
itu untuk Tuhan, tetapi tetaplah melakukan kebaikan kepada sesama.
Tuhan itu ROH. Manusia
dan yang lainnya adalah JASMANI. Laksanakanlah hari Sabat/Perhentian/Nyepi
dengan sifat Rohani. Untuk Tuhan saja. Tetapi ketika harus menolong sesama kita
yang membutuhkan pas pada saat Nyepi, apakah kita akan diam saja? Tentu tidak!
Tuhan tahu hati kita.
Dan justru dari situlah Tuhan menguji dimana hati kita berada. Tidaklah
berdosa, tetapi malah berpahala.
Kiranya kita dapat
belajar bahwa hari raya NYEPI atau hari perhentian adalah hari saat kita
menjadi berarti bagi sesama kita.
Selamat Hari Raya NYEPI.
Tuhan memberkati teman2 yang merayakannya!