Oleh : Ny. Balwinder Singh
Kalau
pada hari ini saya boleh mengaku pada kebenaran Alkitab dan mengaku Yesus
Kristus sebagai Tuhan Dan Juruselamat, hal ini memang sungguh ajaib. Dikatakan ajaib karena
saya dulunya tidak pernah bisa mengerti mengapa seorang manusia sampai boleh
disebut Tuhan oleh orang-orang Kristen. Saya adalah seorang manusia yang dulunya tidak pernah merasa
simpati sama kepercayaan orang-orang Kristen. Malah pernah saya di dalam hati
menertawakan Alkitab sebagai buku yang tak bernilai, tak menarik hati saya
untuk membacanya. Saya pandang remeh sekali sama Alkitab. Saya mengatakan semua
agama baik kecuali Kristen, yang men-Tuhan-kan manusia, dan menjamin dosa
manusia bisa ditebus manusia yang bernama Yesus. Saya merasa tak masuk akal.
Namun
apa jadi, Allah menunjukkan kebenaran yang sungguh daripada-Nya.
Di
dalam keluarga saya, ada seorang kakak ipar saya beserta suaminya yang baru
menjadi pengikut Yesus Kristus. Mereka selalu bersaksi pada saya tentang kuasa
Yesus, tapi saya tidak pernah bisa masuk akal, tak mau saya percaya. Malah saya
selalu menyadarkan mereka supaya mereka kembali ke agama semula yaitu Saya katakan : “ Agama Kristen ini
jeleknya banyak, terutama sekali suka mengagamakan orang yang sudah beragama “.
Tanpa setahu saya, suami saya rupanya sudah lama menjadi pengikut Kristus,
beliau merahasiakan dari saya karena takut akan keretakan rumah tangga kami.
Lebih kurang setahun setelah perkawinan kami, beliau menerima Yesus sebagai
Tuhan dan Juruselamat semasa beliau bekerja di Balikpapan tanpa diketahui oleh
saya.
Saya
benar-benar benci mendengar nama Yesus dulunya, apa lagi menyebut nama
tersebut, saya rasa lucu dan jijik. Demikian bencinya sampai timbul niat dan
usaha saya mahu menyebarkan agama Sikh ke kalangan orang Kristen supaya mereka
boleh mengerti Tuhan itu bagaimana sebenarnya. Tetapi Tuhan tidak sampaikan
maksud saya ini. Dalam pada itu kakak ipar saya ini tak hentinya bersaksi
tentang Yesus. Saya malah mau muntah mendengar cerita-ceritanya tentang “Kesembuhan“. Saya merasa aib besar telah
menimpa keluarga saya dengan beralih kepercayaannya itu. Jiwa saya merasa tidak
tenteram lagi. Pikiran saya sering terganggu karena situasi rumah sering
tegang. Saya merasa berdosa kalau tidak dapat berbuat sesuatu untuk agama saya
(SIKH). Hati saya mulai bertanya pada Tuhan : “Ya.., Tuhan, aib macam apakah
ini yang menimpa keluarga kami ?
Benarkah
Yesus itu Tuhan ? Ya, Tuhan, kalau benar Yesus itu Tuhan tolong tunjukkan pada
saya kuasanya itu . Ya, Tuhan saya tidak mau menyembah sesuatu yang salah !
Saya hanya ingin tunduk pada-Mu ya Tuhan, yang mencipta langit dan bumi.
Dalam
beberapa hari kemudian, anak saya yang pertama tiba-tiba saja menjadi sakit
panas sekali tubuhnya. Begitu panasnya, ia terus menjadi kuyu, tak berdaya.
Saya menjadi takut karena anak saya tersebut lagi menderita Tuberclosis dan
sedang menjalani pengobatan bulan ke III (tiga). Anehnya tiba-tiba sekitar
pukul 12:00 siang, saya bilang ke suami : “ Ayo, kita coba ke gereja minta didoakan
karena dokter spesialisnya buka praktek sore pukul 17:00, nanti bisa lebih
berbahaya kalau dibiarin sampai sore”. Suami saya tidak mau, masak orang sakit
ke gereja? Mestinya dibawa ke dokter dong! Tapi heran hati saya begitu ingin ke
gereja. Karena suami melarang, saya lantas bawa ke dokter spesialis yang lagi
menangani penyakitnya.
Herannya,
dokter lagi keluar kota, 2 hari baru pulang. Saya jadi bingung, saya harus
kemana sekarang? Mau ke spesialis lain timbul rasa khawatir disamping saya mempunyai
uang hanya pas untuk membayar checking. Saya tidak punya uang untuk membayar
bajaj kecuali ongkos becak untuk pulang Rp. 2500. Akhirnya saya
berjalan kaki menuju ke rumah family saya dengan tujuan beliau bisa menghantar
saya dengan kendaraannya untuk spesialis lain. Tapi apa jadinya, bibi tersebut
baru saja keluar menemani tetangga yang sakit mau melahirkan anak. Dalam
perjalanan pulang dari rumah bibi, saya berpikir terus, pulang atau ke gereja?
Kalau pulang bagaimana nanti malam jika terjadi apa-apa misalnya step, kalau
saya ke gereja, apa nanti kata orang? Dalam keadaan bingung, tiba-tiba timbul
keinginan besar dan keberanian untuk ke gereja. Saya ambil bajaj dan langsung
ke gereja dengan uang untuk checking tersebut. Dalam perjalanan hati saya berperang
terus, di tengah perjalanan melewati kuil Sikh hati saya ingin saya
berhenti di situ tapi ada suara di hati saya yang berkata : “Disana tak pernah ada
kesembuhan spontan tanpa obat dan tapa nazar”. Hati berperang, tapi
mulut tak dapat bersuara. Tibalah saya di muka gereja.
Saya
masuk perlahan-lahan. Saya ingin bertemu dengan bapak Pendeta yang pernah
mendoakan kakak saya hingga sembuh secara ajaib. Tapi pendetanya keluar, saya
hampir pulang. Lantas mereka berkata kami juga bisa berdoa karena yang
menyembuhkan hanya Tuhan. Secara tegas saya tekankan bahwa saya bukan orang
Kristen, dan kalau saya bisa berada di tempat ini pada saat ini saya sendiri
pun heran,
dan mereka hanya tersenyum mendengar pengakuan saya.
Ketika
diajak berdoa terlebih dahulu diberitakan firman pada saya : “ Bahwa upah dosa
ialah maut tapi kasih karunia Allah adalah hidup kekal di dalam Kristus Yesus”.
Ketika
berdoa, saya tidak tahu mengapa saya menangis, saya menangis dengan penuh
keharuan. Doa itu begitu indah. Saya belum pernah mendengar doa yang begitu
indah yang sanggup menghancurkan hati saya, dan menghancurkan kekerasan hati
saya. Selesai berdoa saya pamit mah pulang. Baru saja di muka pintu gereja saya
lagi menunggu bajaj, saya jamah dahi dan tubuh anak saya, ajaib panasnya hilang
total. Saya tertegun melihat kuasa nama Yesus. Ketika di bajaj anak saya
sudah mulai ngomong seperti tidak ada sakit tadinya. Setiba di rumah semua pada
heran melihat kesembuhan yang begitu drastis. Saya memperoleh satu perasaan
sepulang dari gereja yang belum pernah saya dapati sebelumnya yaitu perasaan
damai. Sampai saat ini tak dapat saya lupakan rasa damai yang saya dapat itu.
Satu kesaksian dari saya, lagi hidup saya berubah dalam saya mengiring Tuhan
Yesus. Hati pemarah yang saya dapati sejak ayah saya meninggal tiba-tiba jadi
hilang. Saya mendapat satu kekuatan yang baru karena sekarang saya menyembah
Allah yang saya kenal. Begitulah besar kasih Allah pada saya. Kebencian saya
disambut dengan kasih anugerah keselamatan dalam Yesus Kristus.
Amin.