Setiap
tanggal 17 Agustus negara Indonesia merayakan hari kemerdekaan. Merdeka
dari penjajahan bangsa Belanda dan Jepang. Ucapan syukur akan kemerdekaan itu
dilakukan dengan memperingati setiap tahun dengan “pesta rakyat” seperti panjat
pinang, dll. Tanpa terkecuali, kewajiban negara dan rakyatnya dengan upacara
hari kemerdekaan baik di sekolah, instansi pemerintah atau swasta, maupun di
tempat-tempat lain.
Namun semuanya adalah semu. Munafik!
Kemerdekaan yang direbut melalui darah dan keringat
para pahlawan kita, tidak dihargai oleh penerusnya, yaitu kita-kita sendiri
(termasuk rakyat dan pemerintah), bahkan dikhianati melalui perbuatan dan tingkah
laku yang jahat.
Isilah kemerdekaan dengan menghargai sejarah, seperti
jargon Soekarno “JAS MERAH” Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah. Hanya omong
kosong. Banyak bukti yang menunjukkan hal itu.
Banyak gedung-gedung bersejarah di Indonesia yang terbengkalai
tidak terawat bahkan dibiarkan hancur. Bukankah itu tugas pemerintah untuk
melestarikan budaya warisan bangsa? Bukankah pemerintah memiliki anggaran yang
banyak yang tentunya sebagian dialokasikan untuk hal tersebut? Mengapa tidak
dilakukan? Jawabannya gampang sekali. KORUPSI.
Banyak para veteran perang yang hidupnya
memprihatinkan. Rumahnya digusur, biaya untuk kelangsungan kehidupannya tidak
ditunjang, jasa-jasanya dilupakan, tidak diberikan penghargaan, dikucilkan, dan
sebagainya. Mengapa sampai terjadi? Sekali lagi, KORUPSI.
Selama manusia masih hidup dan membutuhkan uang, maka
uang akan menjadi raja atas dirinya. Dengan uanglah manusia bisa hidup dengan
“merdeka”. Merdeka se merdeka-merdekanya, sebebas-bebasnya.
Dengan menyisihkan uang sedikit, tidak membuat kita
miskin, sebaliknya akan memberkati orang lain. Dengan menghargai orang lain
(terutama para pahlawan), maka kita akan dihargai. Dengan memberkati orang
lain, kita akan diberkati. Itu hukum Tuhan.
Tidak ada gunanya kita melaksanakan upacara setiap
tahun bila itu hanya sekadar formalitas. Karena toh tidak mengubah sifat dan
karakter kita yang serakah, mau menang sendiri, merasa benar, merasa hebat,
merasa kaya, dan banyak lagi kesombongan kita.
Tidak adanya kita mengheningkan cipta menghormati
arwah para pahlawan kita, jika hati dan harta kita tidak peduli kepada mereka
dan keluarga yang ditinggalkannya.
Tidak ada gunanya bendera pusaka merah putih
dikibarkan setiap tahun, jika kita tidak bangga dengan negara kita sendiri yang
katanya “gemah ripah loh jinawi”, tapi masih impor bahan baku makanan pokok dan
sebagian masyarakat kelaparan, yang katanya hidup rukun sesama manusia, tetapi
pada kenyataan banyak diskriminasi terhadap Suku, Agama, RAS, dan Antargolongan
(SARA), yang katanya Indonesia negara yang adil dan makmur, namun kenyataannya,
banyak ketidak-adilan dari para penguasa kepada rakyatnya, dan banyak rakyat
yang hidup di bawah garis kemiskinan.
Merdeka yang munafik! Apa yang kita banggakan?
Saatnya kita benar-benar merenungkan arti kemerdekaan
yang sesungguhnya.
Saatnya kita bertobat dan mengakui segala kesalahan
kita di hadapan Tuhan dan mulai melakukan hidup yang benar.
Ayo, lakukan segera! Mumpung masih ada waktu. Mumpung
Tuhan masih tersenyum mengasihi kita.
Kita akan benar-benar merdeka apabila Tuhan ada di
dalam hati kita, dan melakukan kehendak-Nya di dalam kehidupan kita
sehari-hari.
