Minggu, 24 Agustus 2014

WHY MACAU? – Kota yang Harus dan Wajib Anda Kunjungi!



 WHY MACAU?


Kota Makau, disebut juga Daerah Administrasi Khusus Republik Rakyat Tiongkok Macau, sama seperti Hong Kong. Makau adalah daerah kecil di pesisir Selatan Negara Tiongkok, bersebelahan dengan Hong Kong.

Makau, sebelumnya adalah negara kecil jajahan Portugis atau Portugal sebelum dikembalikan ke “orang tua”nya Republik Rakyat Tiongkok, pada tahun 1999.

Mendengar kota Makau, kami jadi teringat akan liburan kami berdua (saya dan istri)  ke kota tersebut pada tahun 2008. Sudah lama memang, tetapi banyak kenangan di sana yang tidak bisa kami lupakan.

Sebelum ke Makau, kami sebenarnya sedang berada di Hong Kong dan Shen Zhen, di rumah kakak dan keponakan kami. Karena letak Makau berdekatan dengan Hong Kong maka cukup dengan menyeberang menggunakan feri, sampailah kami di Makau.

Banyak cerita menarik di Makau, mulai dari penduduk, pemandangan, suasana kota, peninggalan budaya, dan tentu saja makanannya.

Mendengar kata Makau, orang pasti akan berpikiran. “Wah itu kota judi.” Tidak ada kata lain menyangkut Makau selain judi. Namun setelah kami menginjakkan kaki kami di sana, ternyata lebih dari apa yang dibayangkan orang selain kata “judi”.

Tertarik dengan hal Makau, kami akan menceritakan kembali perjalanan kami ke Makau, disertai dengan foto-foto kami saat berada di sana, agar jangan dibilang “omdo”. Hahahahaha...

Perjalanan ke Makau

Dari Hong Kong, tepatnya di pelabuhan Victoria Harbour, kami menuju ke lokasi terminal penyeberangan laut untuk membeli tiket feri ke Makau. Harga tiket saat itu adalah sekitar HKD 300 atau dikurskan Rp.450.000 per orang.

Setelah membeli tiket, kami mengantre ke konter imigrasi. Maklum, kami berdua orang asing dan kami menunjukkan paspor kami. Sedangkan kakak kami yang asli orang Hong Kong, hanya menunjukkan KTP saja. Pelayanan di konter imigrasi tidaklah sesulit dan selama seperti konter imigrasi lainnya di bandara. Kemudian kami menuju ke anjungan atau dok penyeberangan sambil menunggu feri yang akan mengangkut kami. Dok penyeberangan bersih, bagus, dan terawat. Ada ruang tunggu dan ber-AC. Dan itu membuat para penumpang betah walau harus menunggu lama kedatangan feri.

Saat feri datang dan bersandar, penumpang dari feri turun dari pintu belakang sampai habis, baru kemudian penumpang naik dari pintu depan. Itu pun dilakukan dengan tertib dan teratur. Tangga menuju feri berupa besi yang dikeluarkan dari lambung kapal feri. Dan di dalam feri telah tersedia deretan tempat duduk yang sangat rapi dan bagus. Tempat duduk seperti kursi dalam pesawat terbang. Ruangan bersih dan ber-AC. Perjalanan menuju Macau memakan waktu sekitar 2 jam tapi itu tidak membosankan bahkan menurut kami sangat menyenangkan. Maklum karena kami baru pertama kali. Bahkan kami pun sempat ber-selfie ria. Heheheheh norak ya!




 Foto 1: Di atas kapal feri yang membawa kami menyeberang dari Hong Kong ke Makau.


Tiba di Makau

Setiba di Makau, di pelabuhan Makau, kami turun dan menuju ke tengah kota dengan mengendarai bus. Ada banyak bus dengan trayek ke kota-kota yang dituju yang tersedia di pintu keluar pelabuhan, jadi kami tidak bingung harus kemana. Trayek yang tertulis di depan bus menggunakan tiga bahasa yaitu aksara Mandarin, Inggris, dan tentu saja bahasa Portugal. O ya hampir semua tempat di kota-kota di Makau banyak menggunakan nama-nama yang berbau Portugis. Maklum Makau adalah wilayah Tiongkok bekas jajahan Portugal.

Di dalam bus kami berkeliling melintasi kota dan menikmati pemandangan kota Makau yang benar-benar bersih dan asri. Kota tertata dengan apik. Yang unik, di Makau kami melihat tidak ada lampu lalu lintas di setiap perempatan jalan namun yang hebat adalah tidak terjadi tabrakan karena para pengemudi di sana baik mobil maupun pengendara sepeda motor sangat disiplin dalam berlalu lintas dan juga mereka sangat menghormati para pejalan kaki yang akan menyeberang. Begitu ada yang menyeberang jalan, otomatis mereka berhenti mendahulukan mereka yang menyeberang. Luar biasa. Coba saja hal ini terjadi di Indonesia, di Jakarta misalnya. Mungkinkah?

Kami menginap di rumah salah seorang family kami yang memang sudah lama menjadi penduduk Makau. Enaknya, kami bisa diajak berkeliling tanpa harus menyewa tour guide (lumayan bisa mengirit uang).

Kami berada di Makau selama 2 (dua) hari. Dan selama 2 hari itu kami tidak sia-siakan untuk berburu obyek wisata, dan kuliner tentunya. Banyak hal-hal luar biasa yang kami dapatkan di sana. Kami akan ceritakan beberapa hal yang dapat menjadi referensi bagi Anda yang ingin mengunjungi Makau.




Penduduk

Penduduk kota Makau adalah campuran dalam arti gabungan dari beberapa etnis. Yang paling banyak adalah etnis Tionghoa, karena memang Makau adalah bagian dari negara Tiongkok. Etnis lainnya adalah orang-orang keturunan Portugis termasuk juga orang Indonesia asal Timor Timur yang juga bekas jajahan Portugis.

Penduduk Makau termasuk orang yang ramah tapi cuek. Ramah dalam artian mau menjawab setiap pertanyaan yang diajukan misalnya menunjukkan arah jalan, tempat wisata, atau nama tempat, dengan senyuman. Cuek dalam artian tidak mau peduli urusan orang. Itu yang kami alami saat kami bertanya tentang lokasi yang akan kami kunjungi.

Jangan berharap mereka bisa berbahasa Inggris dengan lancar, kecuali mereka yang berpendidikan dan bekerja di perkantoran. Para pedagang di sana seperti pemilik toko, pedagang makanan dan minuman di pinggir jalan, lebih menguasai bahasa Mandarin, karena sebagian besar mereka adalah penduduk asli Makau, yang adalah orang Tionghoa dari daratan Tiongkok.

Para pekerja perkantoran adalah orang-orang keturunan Portugis termasuk orang Indonesia asal Timor Timur, dan juga orang Tionghoa. Mereka mahir menggunakan 3 bahasa (Inggris, Portugal, Mandarin, plus Bahasa Indonesia bagi penduduk asal Indonesia). Nama-nama mereka juga menggunakan nama-nama berbahasa Portugal seperti Fernandes, Xavier,  Quentin, dll.

Suatu kali kami tidak sengaja menemui  seorang laki-laki, pegawai di bagian kebersihan Hotel Venetian, untuk menanyakan letak toilet (karena kebetulan kami kebelet pipis), dan ia menunjukkan dengan menggunakan bahasa Inggris campur Portugis. Iseng-iseng saya tanya asalnya, ternyata dia adalah orang Timor Timur yang mengadu nasib di Makau. Ia menjawab dengan bahasa Indonesia logat khas orang Timur (Papua, Ambon). Namanya kalau tidak salah Tony (nama singkat di badge baju seragam kerjanya). Sekadar informasi, Hotel Venetian Macau adalah hotel bertaraf dunia, semua pegawai menggunakan jas , termasuk pegawai di bagian kebersihan sekali pun.

Obyek Wisata

Di Makau, banyak sekali obyek wisata yang wajib dikunjungi. Banyak situs sejarah yang dibiarkan utuh sesuai aslinya, hanya dicat ulang agar kelihatan lebih bersih, namun bentuk bangunan dibiarkan tetap seperti aslinya.

Contohnya, adalah dinding bagian depan gereja Katolik yang sempat terbakar ratusan tahun lalu, dibiarkan tetap berdiri. Di lokasi tersebut, di teras depannya dijadikan tempat berkumpul para wisatawan yang hendak mengabadikan dirinya dengan latar belakang bekas dinding gereja tersebut. Hampir setiap hari lokasi tersebut dibanjiri ribuan wisatawan dari berbagai dunia. 




 Foto 2: Bagian depan gedung gereja Katolik yang sempat terbakar. Usia bangunan ratusan tahun



Di dekat lokasi tersebut banyak ditemui benda-benda bersejarah lainnya, seperti benteng pertahanan saat perang Fort Knox, meriam mirip si Jagur di Kota Tua,  juga ada patung-patung yang dapat sekadar dijadikan obyek selfie. Juga banyak pedagang cinderamata khas Makau, seperti gantungan kunci bergambar ikon kota Makau, kotak musik (music box) yang dapat mengeluarkan musik saat dibuka, dan pernak-pernik lainnya, yang harga cukup murah menurut ukuran kantong orang Indonesia, termasuk kami yang sempat membeli oleh-oleh gantungan kunci.


Ada yang sedikit berbau “porno” di sana yaitu ada patung wanita telanjang yang sedang duduk sambil memegang patung seekor singa kecil. Saya berkesempatan berfoto “nyeleneh” dan itu menurut saya pribadi bagus untuk dilihat hasil fotonya.



Foto 3: Di tempat wisata yang banyak peninggalan warisan budaya Portugis



Ada juga toko yang menjual buah-buahan, makanan, dan minuman khas Makau. Saya berkesempatan membeli satu pak cemilan kacang khas Makau yang cukup enak, menikmati segelas teh khas Makau dicampur es yang nikmat, juga tak lupa membeli kaos khas kota tujuan wisata yang biasa dibeli oleh para wisatawan yang berkunjung ke suatu negara, seperti kaos yang bertuliskan “I Love Macau” dan lain sebagainya.

Ada alun-alun yang di tengah kota yang sangat indah untuk sekadar berkumpul bersama keluarga, mengobrol, berfoto-ria, sambil menikmati pemandangan kota. Dihiasi dengan miniatur benteng berwarna merah oranye bernuansa Tiongkok di tengah-tengah alun-alun, dikelilingi bangunan nuansa Eropa, sangat eksotik.







 Foto 4: Di tengah alun-alun


Tempat wisata lain yang beruntung sekali dapat kami kunjungi adalah Hotel The Venetian. Hotel termegah dan termewah di Makau. Kenapa beruntung? Karena pada tahun 2008 saat kami melakukan perjalanan ke sana, hotel tersebut sedang dalam tahap finishing, belum soft opening, sehingga kami dapat leluasa masuk ke dalam lobi, teras, sampai ke dalam hotel hanya untuk sekadar melihat-lihat keindahan interiornya.  Seandainya, hotel tersebut sudah ada, mustahil kami dapat masuk ke dalamnya, apalagi sampai menginap. Hahahahaha kecuali kami miliarder atau penjudi kelas kakap.

Sayangnya, kunjungan tersebut dilakukan pada malam hari jadi kurang terlihat indah, untungnya bangunan hotel tersebut dikelilingi ribuan lampu hias sehingga masih dapat dilihat kemegahan dan kemewahannya.




 Foto 5: Latar Belakang - The Venetian Hotel & Resort



Sebenarnya Hotel The Venetian itu jadi satu dengan mall dan arena judi kasino yang terkenal di dunia, yang ada di bawahnya. Mallnya terlihat mewah dan glamor. Barang yang dijajakan adalah kelas atas. Kami hanya bisa melihat namun tidak bisa membeli. Ehem.... Kepengen sih, tapi apa daya, tidak ada dolar di kantong, ada pun hanya lembaran satuan dolar... Hahahahahaha.

Di lorong sepanjang mall, bisa Anda temui beberapa orang “pengamen” dengan berlakon seperti seorang pantomim. Wajah dan seluruh tubuhnya dicat putih. Kadang-kadang mereka berlagak seperti patung, tidak bergerak sedikit pun. Ini kesempatan yang tidak kami sia-siakan untuk dapat berfoto ria dengannya. Mengapa saya katakan “pengamen”? Karena mereka sebenarnya para artis jalanan yang mendapatkan uang dari pemberian para pengunjung mall. Uang kita taruh di dalam sebuah kotak yang ada di bawah kakinya tempat “patung” itu berdiri. Dan mereka mengucapkan terima kasih dengan menggerakkan tangannya.




 Foto 6: "Pengamen" di dalam mall



Di dalam mall tersebut dapat Anda jumpai “sungai” seperti yang ada di kota Venesia, Italia. “Sungai” itu ada air yang mengalir membelah lantai mall itu dan dihubungkan dengan jembatan. Anda dapat mengendarai perahu dengan menyewanya kepada pengemudi perahu, sambil mengitari mall. Di atap mall dilukis awan dan langit seperti layaknya  langit sungguhan di kota Venesia. Itu sebabnya, hotel merangkap mall tersebut dinamai The Venetian, seakan miniatur kota Venesia.



 Foto 7: "Little Venice"

Kami tidak sempat menaiki perahu, namun sempat berfoto di atas “jembatan” dengan latar belakang langit biru. Aiihhh... mesranya!




 Foto 8: Di atas "Jembatan Sungai Venice"


Kami pun berkesempatan mampir ke ruang arena judi kasino terbesar di Asia. Ada ratusan meja judi berukuran besar tertata di setiap sudut dan tengah ruangan. Masing-masih ada petugas yang melayani para pemain, ada yang wanita ada pula yang pria. Ternyata masuk ke dalam arena judi tersebut tidak sesulit dibayangkan orang-orang. Kami bebas masuk ke dalam arena tertutup yang memang sangat luas itu. Siapa pun boleh masuk ke dalam arena itu hanya dengan syarat, tidak boleh mengenakan kaos oblong dan celana pendek. Itu aturan yang diterapkan manajemen Kasino. Selain itu, ada aturan “DILARANG MEMOTRET!” Makanya kami hanya bisa bercerita tanpa bisa memberikan gambar.

Anda punya uang? Boleh main di dalam arena judi ini. Kami pun sempat main judi semacam ding dong atau rolet yang mana ada angka di panel, lalu kami masukkan koin yang sudah ditukar dengan uang di kasir. Kami putar tuas di panelnya, maka deretan 3 angka akan bergerak dengan cepat, kemudian berhenti. Apabila 3 angka berjajar dengan nilai sama, maka kami mendapat hadiah uang senilai yang tertera di panel tersebut. Namun, namanya juga judi, kami tidak semujur itu. Kami tidak mendapatkan apa-apa. Tidak apalah hanya menghabiskan uang senilai HKD 50 atau sekitar Rp.150.000,-- untuk sekadar coba-coba main judi kasino di Makau, cukup puas.

Asal Anda tahu, ada banyak warga negara Indonesia kaya yang berada di dalam arena judi ini.

O iya hampir lupa. Kasir penukaran uang di dalam arena judi tersebut kebanyakan wanita. Lebih banyak yang berwajah oriental. Wajahnya tentu saja cantik, dan berpakaian seksi. Tapi jangan coba-coba berbuat iseng atau menggoda mereka. Mereka juga mahir menggunakan 3 bahasa, Inggris, Portugis, dan tentu saja Mandarin.

Karena tidak diperbolehkan memotret, maka kami hanya bisa berfoto di depan pintu masuk arena judi saja. Hahahahaha mumpung bisa....
 




 Foto 9: Di luar area kasino



Keadaan Kota dan Transportasi

Beralih ke keadaan kota dan moda transportasi di kota Makau.
Kotanya bersih, segar, nyaman. Itu kesan pertama yang kami dapat. Itu memang iya jika dibandingkan dengan kota Jakarta. Di Makau banyak berseliweran mobil-mobil mewah milik pribadi maupun milik konsulat atau atase. Ada juga kendaraan angkutan publik seperti bus. Kami tidak melihat ada rel kereta api, atau karena kami tidak melalui kota yang ada jalur rel kereta api. Sepeda motor di Makau hampir semuanya adalah skuter matik atau skutik. Mungkin untuk memudahkan saja dalam berkendara.

Uniknya, hampir di setiap persimpangan yang kami lewati, tidak ada rambu lalu lintas. Tapi yang bikin kami salut, mereka adalah pengendara dan pengemudi yang sangat disiplin. Mereka menghargai dan menghormati hak para pejalan kaki. Setiap ada yang akan menyeberang, para pengendara sepeda motor atau pengemudi mobil, akan berhenti secara otomatis. Luar biasa! Perilaku yang pantas dicontoh di Indonesia.

Sistem perparkiran menggunakan sistem elektronik. Setiap kendaraan yang berhenti untuk parkir, di sisi jalan ada alat elektonik yang mencatat data kendaraan, seperti jenis kendaraan, nomor polisi, jam mulai parkir. Ketika si pemilik kendaraan akan meninggalkan area parkir, alat pencatat tersebut akan berbunyi dan kemudian mengeluarkan semacam tiket yang menunjukkan lamanya waktu parkir dan biaya yang harus dibayar. Namun saya tidak sampai mengamati, bagaimana cara membayar parkir tersebut, karena saya tidak mungkin memperhatikan setiap kendaraan yang parkir sampai kemudian mereka meninggalkan parkirnya. Yang membuat saya kagum adalah kedisiplinan dan kejujuran masyarakat di sana. 

Saya hanya mengamati secara sekilas saja. Tapi saya menilai ini sangat bagus diterapkan di Indonesia.

Kuliner

Terakhir adalah masalah kuliner. Ini yang kami nantikan selama berada di Makau. Kami selalu ingin tahu makanan dan minuman khas apa yang ada di Makau. Dan kami harus mencicipinya. Beruntung kami tinggal di rumah seorang family, jadi ketika saat makan di sebuah restoran, kami tidak perlu mengeluarkan uang makan karena pasti ditraktir. Hahahahah ngarep dot com.
Di beberapa restoran di Makau, ada juga yang menyajikan masakan khas Indonesia. Saya teringat, ketika di sana, saya memesan 1 porsi Laksa. Istri saya dan yang lainnya memesan makanan khas Asia seperti ayam goreng mentega, sup daging, dan lainnya. Saya lupa karena sekali lagi, foto-foto kenangan saya hilang. Tapi yang pastinya, makanan di Makau masih cocok dengan lidah orang Indonesia. Ada masakan Eropa, Jepang, Amerika, Arab, India, dan Indonesia. Tergantung di restoran mana kita akan singgah.

Ada lagi! Penjaja makanan kaki lima banyak di sekitar pasar atau tempat wisata. Mereka tidak sembarangan berjualan di jalan-jalan protokol atau jalan-jalan yang dilalui kendaraan. Mereka berjualan di tempat yang disediakan. Harganya cukup murah dan beragam jenis. Kami pun sempat mencicipi semacam bakso, yang memang enak. Harga 1 porsi bakso sekitar HKD 10 atau Rp.15.000 saja. Kami tidak melihat ada gerobak makanan yang mangkal, tetapi berupa pikulan atau gerobak kecil yang hanya memuat tempat masak dan mangkok atau gelas saja. Tidak disediakan tempat duduk, jadi makan sambil berdiri. Tapi itu seakan terlupakan karena konsentrasi kami adalah makanan dan minuman yang sedang kami nikmati. Muantappp!!!
Kiranya dari cerita pengalaman perjalanan kami ke Makau, dapat menginspirasi Anda semua untuk bisa mengunjungi Makau. Dijamin Anda dapat menikmati semua hal yang menarik yang ada di Makau.

Happy Travelling.....




2 komentar: