Senin, 08 Desember 2014

KEMERDEKAAN YANG MUNAFIK







Setiap tanggal 17 Agustus negara Indonesia merayakan hari kemerdekaan. Merdeka dari penjajahan bangsa Belanda dan Jepang. Ucapan syukur akan kemerdekaan itu dilakukan dengan memperingati setiap tahun dengan “pesta rakyat” seperti panjat pinang, dll. Tanpa terkecuali, kewajiban negara dan rakyatnya dengan upacara hari kemerdekaan baik di sekolah, instansi pemerintah atau swasta, maupun di tempat-tempat lain.

Namun semuanya adalah semu. Munafik!

Kemerdekaan yang direbut melalui darah dan keringat para pahlawan kita, tidak dihargai oleh penerusnya, yaitu kita-kita sendiri (termasuk rakyat dan pemerintah), bahkan dikhianati melalui perbuatan dan tingkah laku yang jahat.

Isilah kemerdekaan dengan menghargai sejarah, seperti jargon Soekarno “JAS MERAH” Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah. Hanya omong kosong. Banyak bukti yang menunjukkan hal itu.

Banyak gedung-gedung bersejarah di Indonesia yang terbengkalai tidak terawat bahkan dibiarkan hancur. Bukankah itu tugas pemerintah untuk melestarikan budaya warisan bangsa? Bukankah pemerintah memiliki anggaran yang banyak yang tentunya sebagian dialokasikan untuk hal tersebut? Mengapa tidak dilakukan? Jawabannya gampang sekali. KORUPSI.

Banyak para veteran perang yang hidupnya memprihatinkan. Rumahnya digusur, biaya untuk kelangsungan kehidupannya tidak ditunjang, jasa-jasanya dilupakan, tidak diberikan penghargaan, dikucilkan, dan sebagainya. Mengapa sampai terjadi? Sekali lagi, KORUPSI.

Selama manusia masih hidup dan membutuhkan uang, maka uang akan menjadi raja atas dirinya. Dengan uanglah manusia bisa hidup dengan “merdeka”. Merdeka se merdeka-merdekanya, sebebas-bebasnya.

Dengan menyisihkan uang sedikit, tidak membuat kita miskin, sebaliknya akan memberkati orang lain. Dengan menghargai orang lain (terutama para pahlawan), maka kita akan dihargai. Dengan memberkati orang lain, kita akan diberkati. Itu hukum Tuhan.

Tidak ada gunanya kita melaksanakan upacara setiap tahun bila itu hanya sekadar formalitas. Karena toh tidak mengubah sifat dan karakter kita yang serakah, mau menang sendiri, merasa benar, merasa hebat, merasa kaya, dan banyak lagi kesombongan kita.

Tidak adanya kita mengheningkan cipta menghormati arwah para pahlawan kita, jika hati dan harta kita tidak peduli kepada mereka dan keluarga yang ditinggalkannya.

Tidak ada gunanya bendera pusaka merah putih dikibarkan setiap tahun, jika kita tidak bangga dengan negara kita sendiri yang katanya “gemah ripah loh jinawi”, tapi masih impor bahan baku makanan pokok dan sebagian masyarakat kelaparan, yang katanya hidup rukun sesama manusia, tetapi pada kenyataan banyak diskriminasi terhadap Suku, Agama, RAS, dan Antargolongan (SARA), yang katanya Indonesia negara yang adil dan makmur, namun kenyataannya, banyak ketidak-adilan dari para penguasa kepada rakyatnya, dan banyak rakyat yang hidup di bawah garis kemiskinan.

Merdeka yang munafik! Apa yang kita banggakan?

Saatnya kita benar-benar merenungkan arti kemerdekaan yang sesungguhnya.

Saatnya kita bertobat dan mengakui segala kesalahan kita di hadapan Tuhan dan mulai melakukan hidup yang benar.

Ayo, lakukan segera! Mumpung masih ada waktu. Mumpung Tuhan masih tersenyum mengasihi kita.

Kita akan benar-benar merdeka apabila Tuhan ada di dalam hati kita, dan melakukan kehendak-Nya di dalam kehidupan kita sehari-hari.