Fenomena BB (baca ‘bebe’),
singkatan keren untuk perangkat Blackberry memang sangat luar biasa.
Penggunanya tidak hanya orang dewasa tapi juga anak-anak yang masih memakai
seragam putih merah tingkat 1, alias SD kelas 1.
Ya. BB memang sangat luar
biasa. Sebuah perangkat elektronik seukuran saku baju yang memiliki teknologi
canggih layaknya sebuah komputer dalam ukuran mini. Karena itu BB disebut juga
smartphone atau telepon pintar.
BB mengintegrasikan
layanan data dan suara sekaligus secara multi tasking dan online. Pengguna bisa
menggunakannya untuk bertelepon, ber-sms, ditambah berkirim data atau pesan
secara real-time melalui fasilitas BBM (Blackberry Messenger) yang “hanya”
dimiliki oleh perangkat BB dan antar pengguna BB. Belum lagi sekarang zamannya
chatting melalui jejaring sosial seperti Facebook, Twitter, Friendster,
MySpace, IDLinked, dll.
Saya tidak akan membahas
perangkat BB-nya karena saya bukan ahli di bidang itu. Namun saya sangat
“kesal” bercampur senang sekaligus “sebal” karena dengan adanya perangkat BB
terjadi perubahan yang sangat radikal pada aspek kehidupan sosial masyarakat
khususnya para pemilik BB (bukan pengguna, karena pengguna belum tentu pemilik,
tapi pemilik sudah pasti pengguna), walaupun tidak semuanya. Perubahan yang
sangat radikal itu sayangnya bersifat negatif atau kalau diistilahkan lebih
banyak mudaratnya daripada manfaatnya.
Tidak percaya? Ini alasan
dan faktanya.
1. Awalnya…, perangkat BB
awalnya adalah ditujukan buat para pebisnis khususnya di bidang keuangan (para
investor, pialang) yang membutuhkan ketersediaan data secara real time namun
tidak ribet (karena bisa dilakukan secara mobile).
2. Berkembang lagi dengan
adanya fasilitas email yang juga berkembang tidak hanya pebisnis keuangan,
tetapi juga kepada para eksekutif, para pekerja kantoran yang memiliki
fasilitas email untuk memantau kabar atau sekedar mengecek tugas yang diberikan
oleh atasannya, atau data-data bisnis, proyek, order barang, dsb. Makanya BB
menggunakan fasilitas BES (Blackberry Enterprise Service), layanan email khusus
perusahaan bagi karyawan/pegawai perusahaan (orang kantoran).
3. Awalnya…, karena harga
perangkat BB mahal karena itu hanya bisa dibeli oleh perusahaan dan
diperuntukkan para karyawannya agar bisa memantau pekerjaannya.
4. Awalnya…, telepon
genggam hanya untuk bertelepon dan berkirim pesan (SMS).
5. Awalnya…, perangkat BB
adalah sebuah kebutuhan.
6. Awalnya…, dan awalnya…,
berjalan dengan normal…..
Namun, sekarang……
perubahan drastis terjadi sedemikian hebat, karena:
Semua orang bisa memiliki
BB, walaupun harga perangkat BB masih mahal, namun orang berlomba untuk bisa
memilikinya.
1. Tidak bisa lagi
membedakan mana kebutuhan, mana keinginan.
2. Menunjukkan gengsi
bahwa dengan memiliki sebuah BB, orang sekitar akan menilai dia orang kaya,
padahal membelinya dengan cara kredit menggunakan kartu kredit yang belum tentu
terbayar lunas karena gajinya kecil.
3. Dulu tidak tahu apa itu
email, YM, FB, Twitter, sekarang bergaya dengan memiliki akun email yang banyak
padahal tidak ada satu pun email yang diterima ataupun dikirim.
4. Fungsi BBM mirip dengan
Yahoo Messenger (YM) atau MSN Messenger atau Gtalk, atau instant messaging
sejenisnya yang ada di komputer PC. Dulu tidak pernah tau apa itu YM bahkan gaptek
karena tidak pernah buka komputer walaupun di rumah teronggok di ruang tamu
atau kamar, tapi dengan BBM, hampir setiap detik tangan dan mata tidak lepas
dari BB karena saling ber-BBM ria dengan teman2nya, walaupun hanya sekedar
“halo”, “apa kabar”, “selamat pagi”, “o ya?”, bla… bla.. bla… dll.
5. Dengan perangkat BB,
merasakan seolah dunia ada di dalam genggamannya. Setiap saat, setiap detik,
selalu ada BB di tangan. Padahal pekerjaannya bukanlah orang kantoran, tidak
memerlukan email, tidak suka bertelepon lama-lama, atau pekerjaannya justru
bidang IT yang setiap hari 24 jam berada di depan komputer yang juga tersambung
non stop melalui sambungan internet, gratis pula. Atau seorang pemilik /
operator warnet yang setiap hari 24 jam nongkrongin komputer, dapat duit lagi.
6. Perangkat BB bagaikan
“tuhan” bagi mereka karena merasa kelimpungan bila tidak bawa BB ke gereja atau
ke mesjid daripada tidak bawa Alkitab atau Al-Quran. Dan saat mendengarkan
khotbah pendeta atau ceramah ustad mereka asik ber-BBM daripada membaca Alkitab
atau Al-Quran…. (wah kualat tuh….)
7. BB bagaikan “istri”
atau “suami” kedua yang lebih hebat karena bisa diajak tidur sambil bergenggam
tangan.
8. Punya BB lebih hebat
atau dibilang melek teknologi dari pada punya hape biasa apalagi hape jadul,
padahal ketika BB-nya lemot mereka kalang kabut dan menyalahkan perangkatnya
payah, tidak “smart” karena tidak tahu harus berbuat apa terhadap BB-nya. (Lho
sebenarnya yang “smart” itu BB-nya atau orangnya?)
9. Bila BB-nya ada masalah
dan perlu diperbaiki dengan harga yang cukup mahal, mereka rela mengeluarkan
uang (atau malah utang) demi BB-nya kembali bagus. Padahal proses perbaikannya
pun membutuhkan waktu yang lama karena tidak/belum ada teknisi BB dan pusat
servis BB resmi di Indonesia (bahkan kantor perwakilannya pun belum ada), tapi
mereka rela menunggu. (Lebih setia daripada harus menunggu pacar atau suaminya
atau istrinya).
10. Rela membeli pulsa
demi untuk “memberi makan” BB-nya agar tidak mati alias tidak bisa digunakan.
(Jadi ingat permainan “Tamagochi”…), padahal makan sehari-hari aja di warteg,
tapi bangga makan cuma pake sambel doang sambil tangannya pegang BB biar diliat
orang lain yang sama-sama makan di warteg. Padahal dulu sebelum punya BB, pulsa
yang dibelinya secara eceran dengan nominal terkecil dan dipakai secara hemat.
Itulah masyarakat Indonesia yang lebih mementingkan gengsi dan
penampilan daripada otak atau kepintaran untuk memajukan bangsa dan negaranya
supaya dikenal di negara lain.
Siapa yang untung, siapa
yang rugi? Siapa yang pintar dan siapa yang bodoh?
Untuk bisa menikmati
layanan BB lebih tepatnya agar BB bisa dipakai, sama seperti hape lainnya,
tentunya harus ada pulsa. Bicara pulsa berarti bicara operator. Apa bedanya BB
dengan hape lainnya? Toh sama-sama memakai pulsa? Nah inilah yang perlu
diperhitungkan secara cermat dan cerdas. Mengapa harus cermat dan cerdas?
Perhatikan :
1. Untuk menggunakan hape
biasa, cukup membeli pulsa senilai nominal minimal (tentunya setelah memiliki
nomor perdana), misalnya Rp.5.000 maka bisa dipakai untuk menelepon atau SMS
sepuasnya atau bahkan bisa untuk internetan (tergantung “promo” dari
masing-masing operator) sampai masa berlakunya habis (minimal 7 hari), setelah
itu baru mengisi ulang pulsanya dengan nominal sesuai kebutuhan tidak ada
paksaan. Dalam hal ini konsumen tidak dirugikan tetapi juga tidak diuntungkan.
Yang jelas, pihak operator pasti untung (istilah sederhananya, orang jualan
mana ada yang mau rugi…)
2. Sedangkan untuk bisa
menggunakan layanan BB, operator memberikan Paket (istilah mereka “PAKET BB”)
bisa harian, mingguan, atau bulanan dengan nilai tertentu (masing-masing
operator berbeda). Itu pun hanya bisa dipakai untuk layanan data “khusus BB”
seperti instant message (BBM, YM, Gtalk, dan sejenisnya), atau jejaring sosial
(FB, Twitter, MySpace, dan sejenisnya), atau email (push email). Tidak
bisa/tidak termasuk untuk
menelepon atau SMS, karena harus menambah pulsa lagi di luar PAKET BB tadi.
Dalam hal ini, sangat jelas konsumen dirugikan karena “dipaksa” membeli/mengisi
pulsa untuk “memberi makan” BB-nya agar berfungsi selayaknya BB. Silakan hitung
sendiri. Ambil contoh PAKET BB Harian seharga Rp.3.000 (misalnya), dikali 30
hari, sama dengan Rp.90.000,– hanya untuk “bla bla bla”. Coba kalo dipake buat
hape biasa, bisa sampe dower tuh mulut ngobrol atau yang lebih berarti lagi,
memberikan informasi yang lebih bermutu kepada teman, sanak saudara, sampai ke
seantero nusantara atau dunia bila perlu. Konsumen gak dapat apa-apa, operator
dapat duit dari kita. Untung lagi deh dia…
3. Ada sebagian operator
menawarkan PAKET BB UNLIMITED Harian, Mingguan, atau Bulanan yang mencakup
semuanya termasuk terima / kirim email tanpa batas (sesuai kuota nominal
pulsa). Tetapi tetap saja tidak termasuk menelepon/SMS,
dan harus mengisi pulsa lagi untuk itu. Berarti, lagi-lagi operator yang
semakin untung, konsumen semakin buntung. Apakah Paket tersebut benar-benar
“UNLIMITED” alias TANPA BATAS? Ternyata sama sekali tidak !!! alias BOHONG !!!
Ingin bukti ? Caranya seperti ini. Sisakan pulsa hape Anda (atau minimal
RP.500), kemudian Anda mengisi pulsa BB Anda dengan PAKET UNLIMITED HARIAN
(sebagai contoh, minimal Rp.3000 misalnya). Setelah dipotong pulsa Paket, maka
saldo pulsa Anda kembali Rp.500. Memang betul BB Anda bisa digunakan untuk
chatting, BBM, email, jejaring sosial, dll. Tapi coba Anda pakai BB Anda untuk
menelepon atau SMS, pasti akan terdengar kata : “Pulsa Anda tidak mencukupi
untuk melakukan panggilan.” Ada lagi, Anda menggunakan Twitter atau Facebook,
lalu buka konten yang ada di dalam FB atau Twitter tersebut (seperti yang ada http://www.blablabla.com/xxxx/xxxx.html, misalnya) dengan
meng-klik alamat tersebut. Maka akan muncul pesan seperti “Wifi Connection is
needed to open this site” atau “Your device is not supported to open this site”
atau apalah yang sejenis, atau bahkan tidak ada respon sama sekali. Itu
artinya, ketika Anda membuka situs itu, menggunakan jaringan GPRS/EDGE dan itu
harus bayar pake pulsa. Dan pulsa itu tidak termasuk di dalam PAKET UNLIMITED,
tapi pake pulsa lain lagi. Nah kalo sisa pulsa Anda tinggal Rp.500 (apalagi
sudah abis kepake buat SMS), bisa buat buka apa? Sama juga bohong dong…. Nah
ini yang kebanyakan tidak disadari oleh para pemilik/pengguna BB yang sok
gengsi itu. Belum lagi kalo kita telp ke nomor operator (yang tiga angka) pasti
akan dikenakan biaya menelepon, lagi-lagi di luar Paket Unlimited. Jadi…, yang
UNLIMITED itu apanya? Hore kali ini operator benar-benar jadi raja duit…
Dari kesemuanya itu tetap
saja operator yang untung. Konsumen jelas sangat-sangat rugi.
Nah, ditambah lagi dengan
semakin mudahnya orang-orang mendapatkan perangkat BB melalui promosi melalui
Bank dengan kartu kreditnya atau bundling dengan operator, semakin lebar senyum
para operator menangguk milyaran rupiah dari Anda dan mungkin juga saya.
Dengan demikian, adakah
kata yang lebih pantas dari kata “KITA RUGI MEREKA UNTUNG” dan “KITA BODOH
MEREKA PINTAR” ?
KESIMPULAN :
1. Apa hebatnya RIM dengan
produk Blackberrynya sehingga seakan menjadi idola jutaan umat manusia?
2. Blackberry memang
perangkat yang berteknologi canggih. Teknologi itu buatan manusia, dan RIM
dengan Blackberry-nya sanggup membuat manusia tunduk dan menjadi budak teknologi.
Bukankah seharusnya sebaliknya?
3. Blackberry membuat
perubahan yang drastis bagi kehidupan manusia (terutama pemilik/penggunanya)
4. Mengubah perilaku
masyarakat (terutama pemilik/penggunanya)
5. Meningkatkan gengsi
masyarakat. (Wow? Hebat sekali…!! - Makan tuh gengsi…!)
6. Perusahaan RIM dan
operator diuntungkan. Semakin banyak orang membeli perangkat BB dengan pilihan
opratornya, semakin kayalah mereka. Berbahagialah para pemilik saham
perusahaan-perusahaan itu.
7. Mengubah Kebutuhan
nyata menjadi Keinginan yang sebenarnya semu.
Kiranya tulisan ini menjadi pencerahan, kesadaran, dan introspeksi
diri. Dan selanjutnya…., TERSERAH ANDA !!!
BBM - Benar Benar Menyesakkan dada….

Tidak ada komentar:
Posting Komentar