Assalamualaikum wr.wb
Melalui email
ini, ijinkanlah kami selaku Pengurus dan semua Staff Isa dan Islam Indonesia
mengucapkan Selamat hari raya Idul Adha.
Idul Adha
merupakan hari raya kedua bagi
umat Muslim setelah Idul
Fitri. Idul Adha, atau
disebut juga sebagai hari
Raya Kurban, tidak dirayakan
semeriah hari Raya Idul
Fitri.
Ketika Idul
Adha tiba, seluruh umat
Muslim, terutama bagi mereka
yang mampu, akan memberi
kurban. Satu orang wajib mempersembahkan satu
kambing atau satu sapi
untuk tujuh orang. Biasanya,
hewan-hewan kurban ini akan
dibagi-bagikan kepada fakir miskin,
anak yatim, atau mereka
yang dianggap berkekurangan secara
ekonomi.
Latar Belakang Kurban
Umat Muslim
percaya, perayaan kurban adalah
bentuk teladan pada ketaatan
Nabi Ibrahim ketika Allah
memerintahkan dia untuk mengorbankan anaknya
yang tunggal. Sayangnya, Al-Quran
tidak menjelaskan dengan pasti siapakah
anak Nabi Ibrahim tersebut.
Ismail-kah seperti yang dipercaya
umat Muslim, ataukah Ishak?
Berbeda dengan
Taurat, tertulis dengan jelas
bahwa yang dikorbankan Nabi
Ibrahim adalah Ishak. “Firman-Nya: "Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu" (Taurat,
Kitab Kejadian 22:2).
Umat Muslim
percaya, berkurban ketika Idul Adha
merupakan amalan yang paling
dicintai Allah, sebagaimana yang
dikatakan Muhammad. “Tidak ada suatu amal anak Adam pada hari raya qurban yang lebih dicintai ALLAH selain menyembelih qurban” (HR. Tirmidzi).
Apakah tujuan
umat Muslim berkurban hanya
agar mendapat pahala? Dan
apakah pahala yang terkumpul
dapat memberi jaminan keselamatan
sorgawi?
Kurban Pertama Dalam Sejarah Manusia
Sebenarnya kepercayaan
memberi kurban persembahan bukanlah
hal yang baru ditemukan
setelah Islam ada. Sejak
awal manusia ada di
dunia, 'kurban' sudah ada.
“Dan TUHAN Allah membuat pakaian dari kulit binatang untuk manusia dan untuk isterinya itu, lalu mengenakannya kepada mereka” (Taurat, Kitab Kejadian
3:21). Inilah peristiwa 'kurban'
pertama dalam kehidupan manusia,
di mana Allah harus
'mengorbankan' seekor
binatang untuk menutupi dosa
ketelanjangan Adam dan Hawa.
Kurban berikutnya
ialah ketika Allah ingin
membawa keluar bangsa Israel
dari perbudakan bangsa Mesir. Allah memberi
mandat kepada Musa, agar
bangsa Israel memberi tanda
pada pintu-pintu rumah mereka, untuk
membedakan rumah bangsa Israel
dengan Mesir. Supaya bangsa
Israel luput dari tulah
yang akan Allah turunkan
bagi bangsa Mesir.
“Kemudian kamu harus mengambil seikat hisop [tumbuhan Timur Tengah] dan mencelupkannya dalam darah yang ada dalam sebuah pasu [bokor], dan darah itu kamu harus sapukan pada ambang atas dan pada kedua tiang pintu; seorangpun dari kamu tidak boleh keluar pintu rumahnya sampai pagi” (Taurat, Kitab Keluaran
12:22).
Dari dua
peristiwa di atas kita
dapat
melihat bagaimana manusia “terbebas” karena
bantuan dari seekor kurban.
Adam dan Hawa terbebas
dari rasa malu karena
telanjang. Bangsa Israel terbebas
dari tulah Allah.
Kekurangan Kurban Masa
Taurat
Bila kita
membaca Alkitab secara keseluruhan, khususnya
Taurat dan Kitab Para
Nabi, kita dapat melihat
bagaimana manusia sangat tergantung
pada kurban persembahan. Dalam
Kitab Imamat (di Taurat)
kita dapat melihat ada
lima jenis kurban yang
harus dipersembahkan imam kepada Allah: Kurban
Bakaran, Kurban Sajian, Kurban
Keselamatan, Kurban Penghapusan Dosa,
dan Kurban Penebusan Salah.
Tapi kita
patut bersyukur memiliki Allah yang
Maha Tahu dan penuh
kasih.
Dia berfirman, “. . . tidak mungkin darah lembu jantan atau darah domba jantan menghapuskan dosa” (Injil,
Surat Ibrani 10:4). Kurban-kurban pada zaman Taurat
hanya merupakan “. . . bayangan saja dari keselamatan yang akan datang” (Injil, Surat
Ibrani 10:1).
Keselamatan
yang dimaksudkan ialah Kalimat-Nya yang
datang ke dunia
untuk dipersembahkan sebagai “Kurban Agung.”
Identifikasi Kurban Agung yang Dibayangi di Taurat
Kalimat Allah,
yaitu Isa Al-Masih, telah
mempersembahkan
diri-Nya mati di kayu
salib. Dia telah menjadi
kurban untuk mendamaikan Allah
dengan manusia. Darah-Nya yang
tertumpah di atas kayu
salib telah membebaskan manusia
dari dosa, dan juga
membedakan mereka yang telah
menerima anugerah keselamatan dengan
yang tidak.
Sehingga melalui
pengorbanan Kalimat Allah, manusia
tidak perlu lagi memberi
persembahan-persembahan
sebagaimana yang telah ditetapkan
pada zaman para nabi.
Sebab Kitab Suci berkata,
“Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman, dalam darah-Nya” (Injil, Surat Roma
3:25).
“. . . Kristus hanya satu kali saja mengorbankan diri-Nya untuk menanggung dosa banyak orang. . . . untuk menganugerahkan keselamatan kepada mereka yang menantikan Dia” (Injil,
Surat Ibrani 9:27-28).
Demikianlah Isa
Al-Masih
telah menjadi Kurban Agung
bagi kita. Pada Hari
Idul Adha yang saudara
rayakan, kiranya dapat diingat
bahwa Dia dapat
memberi anugerah keselamatan bagi
Anda, bila Anda mau
mempercayai-Nya.
Wassalam,
Saodah
